Post

Wirausaha Jasa Fotokopi (6)

In Jurnal on April 5, 2011 by Litera Media

Penularan Skill Wirausaha Fotokopi secara Nonformal

 

Sekarang muncul pertanyaan, “Di mana tempat sekolah fotokopi?” Atau setidak-tidaknya, “Di mana tempat kursus fotokopi?” Jawabannya tentu saja tidak ada. Lalu, bagaimana bisnis jasa fotokopi berkembang? Nah, inilah pertanyaan kritis. Boleh dibilang, jejaring bisnis fotokopi berkembang secara alamiah. Pembelajaran menjadi seorang operator fotokopi berlangsung seriap hari. Tanpa ruang kelas, tanpa kurikulum. Pembelajaran ini berlangsung secara nonformal. Diakui atau tidak, itulah praktik PNF seutuhnya. Dimana seorang warga belajar secara alami.

Masyarakat mestinya sadar bahwa proses pendidikan bisa berlangsung dimana saja. Kapan saja. Warga bisa dengan laluasa memilih cara mereka belajar. Dan, menjadi seorang wirausaha fotokopi merupakan salah satunya. Wirasusaha fotokopi menjadi model PNF untuk menularkan semangat berwirausaha. Inilah satu solusi mengatasi problematika pengangguran di negeri ini.

 

Post

Wirausaha Jasa Fotokopi (5)

In Jurnal on April 5, 2011 by Litera Media

Menjadi Wirausaha Fotokopi

 

Dunia sudah sepantasnya berterima kasih kepada Chester Flood Carlson, penemu mesin fotokopi. Tanpa penemuannya, sulit membayangkan bagaimana cara menggandakan dokumen secara cepat dan mudah layaknya menggunakan mesin fotokopi. Padahal, hampir bisa dipastikan semua lembaga pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan swasta, bahkan perorangan membutuhkan penggandaan dokumen. Terlepas dari persoalan hak cipta, fotokopi menjadi solusi untuk mendapatkan buku secara murah. Ah, banyak hal yang selesai dengan kehadiran fotokopi.

A.    Membaca Peluang Bisnis Fotokopi

Bisnis fotokopi bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena proses kerjanya sederhana. Berbekal mesin fotokopi digital prima, operator bisa dengan sangat mudah mengoperasikan mesin pengganda dokumen tersebut. Namun begitu, tetap susah untuk bersaing manakala di daerah yang bersangkutan sudah dipenuhi para pesaing. Karena itu, perlu persiapan matang sebelum memutuskan terjun ke bisnis ini. Berikut beberpa hal yang perlu diperhatikan.

§  Lokasi

Seperti pesan banyak guru marketing, rumus pertama adalah menentukan tempat yang tepat. Location, location, location. Begitu kata pakar marketing. Sesuai dengan core business fotokopi sebagai pengganda dokumen, maka pertimbangan pertama untuk menentukan tempat adalah keberadaan lembaga pendidikan atau perkantoran pemerintah dan swasta.

Mari kita lihat lebih jauh. Lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, sangat bergantung kepada keberadaan fotokopi. Pengalaman penulis dalam mengelola Violet Copy Centre, sebagian besar pekerjaan yang bersumber dari perguruan tinggi adalah penggandaan bahan perkuliahan, baik buku ajar maupun referensi tambahan.

§  Mesin

Mesin fotokopi sedikitnya bisa dibagi ke dalam dua jenis: analog dan digital. Pemilihan jenis mesin ini sangat tergantung kepada siapa pasar kita. Jika pelanggan kita mahasiswa dan pelajar, maka kualitas mungkin bukan yang utama. Untuk tipe konsumen seperti ini, harga harus menjadi pertimbangan utama.

Relevansi dengan jenis mesin sangat erat. Harga mesin analog jelas lebih murah dibanding digital copier atau mesin digital. Cuma saja saja, kualitas digital lebih baik daripada analog. Tapi, pertimbangannya bukan hanya itu. Saat ini banyak importer mendatangkan mesin digital bekas pakai namun kondisinya masih sangat baik. Mesin-mesin rekondisi ini jauh lebih murah dari harga mesin digital baru.

§  Consumable

Bila mesin fotokopi diibaratkan sebagai senjata, maka consumable adalah amunisi. Nah, keduanya harus seimbang. Artinya, pemilik usaha harus memperhatikan betul kemudahan dalam mendapatkan barang-barang sekali pakai tersebut. Apa saja itu? Komponen utamanya adalah kertas dan tinta (toner) mesin. Dua benda tersebut sangat erat kaitannya dengan mesin. Karena itu, pilihlah kertas dan toner yang tepat, baik kualitas maupun harga.

Ketidaktepatan dalam memilih toner dan kertas bisa berakibat fatal pada mesin. Sebagai contoh, kertas-kertas lembab atau toner yang jelek akan mempercepat kerusakan mesin. Pilihlah jenis kertas yang tepat untuk mesin. Sebagai gambaran, kertas dengan ukuran yang sama berpengaruh berbeda terhadap mesin. Kenalilah aneka jenis dan merek kertas selama masa ujicoba mesin.

Pun dengan toner. Toner compatible membuat drum tidak awet dan merusak spare part mesin. Lakukan tes satu persatu dan liat hasilnya. Yang paling aman tentu saja menggunakan toner original. Meski harganya lebih mahal, tapi tonernya membuat mesin jadi awet.

 

B.     Memilih Lokasi yang Tepat

 

Di atas sudah disebutkan, perguruan tinggi merupakan pasar potensial. Pertimbangannya sederhana saja. Bila bahan ajar di sekolah menengah relatif baru dan banyak beredar di pasaran, buku-buku perguruan tinggi termasuk lambat dalam regenerasi. Bahkan, cenderung itu-itu juga dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi untuk jurusan-jurusan sastra, filsafat, atau teknik. Berbeda dengan buku-buku manajemen dan ilmu ekonomi yang relatif berkembang sukup pesat.

Meski begitu, perkembangan bahan ajar ilmu-ilmu ekonomi sekalipun tidak secepat bahan ajar sekolah menengah. Dalam banyak kasus, buku bahan ajar sekolah terus berganti setiap tahun ajaran. Pola pikir guru maupun siswa juga cenderung kaku dalam memperlakukan bahan ajar. Artinya, kalau ada perintah menggunakan buku A, maka buku tersebut akan digunakan oleh semua siswa. Kondisi ini diperkuat dengan permainan antara pihak sekolah dengan penerbit. Sebaliknya, masyarakat perguruan tinggi lebih terbuka terhadap penggunaan sumber belajar. Pada dasarnya, mahasiswa bebas  sendiri sumber belajar yang mendukung mata kuliahnya. Dengan begitu, pemilihan lokasi fotokopi relatif lebih baik di sekitar perguruan tinggi daripada sekolah.

Di sisi lain, perguruan tinggi lebih berpeluang karena banyak hasil studi maupun penelitian yang memerlukan penggandaan. Sebagai contoh, setiap mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diwajibkan menggandakan skripsi sedikitnya empat kali. Jumlah tersebut didistribusikan ke jurusan, fakultas, perpustakaan, dan mahasiswa yang bersangkutan. Bila satu skripsi memiliki tebal 100-200 halaman, maka kebutuhan seorang mahasiswa untuk menggandakan skripsinya membutuhkan 400-800 lembar kertas. Padahal, jumlah lulusan UPI setiap tahunnya tidak kurang dari 2.000 orang. Jumlah yang menggiurkan bukan?

Sejalan dengan pemilihan lokasi di sekitar perguruan tinggi, maka pemilik usaha fotokopi harus cermat dalam menentukan titik lokasi. Setidaknya terdapat beberapa titik potensial untuk dijadikan lokasi fotokopi. Yakni, di dalam kampus sendiri, di pintu masuk kampus, atau daerah kos-kosan mahasiswa. Ketiga tempat tadi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Lokasi di dalam kampus bisa dipastikan lebih ramai dibanding dua tempat lainnya. Syaratnya, lokasi berdekatan dengan konsentrasi mahasiswa atau perkantoran. Misalnya, pilihlah lokasi di gedung fakultas atau jurusan. Bisa juga di gedung koperasi mahasiswa. Lokasi paling baik adalah pascasarjana. Tempat inilah yang hampir bisa dipastikan memerlukan jasa fotokopi paling banyak. Maklum, buku-buku pascasarjana sebagian besar berbahasa Inggris. Karena itu, jarang beredar di pasaran. Cara mudah mendapatkannya tentu saja di copy centre.

Meski begitu, lokasi di dalam kampus tetap memiliki kelemahan. Denyut nadi kampus relatif standar. Yakni, pagi sampai sore layaknya jam kerja. Artinya, ketika kampus tutup, maka konsumen juga sepi. Pun ketika hari libur tiba. Kampus lagi-lagi sepi. Untuk menyiasatinya, pandai-pandailah merayu konsumen agar bersedia menunggu hingga satu atau dua hari. Dengan begitu, buku bisa dikerjakan pada malam hari atau hari libur sekalipun. Pengalaman selama ini sebagian besar dari mereka tidak keberatan menunggu cukup lama untuk pengerjaan buku atau bahan ajar lainnya.

Peluang nyaris sama terdapat pada lokasi di sekitar pintu masuk mahasiswa. Ini tidak lepas dari kebiasaan mahasiswa meninggalkan pekerjaan sambil berangkat atau pulang kuliah. Dibanding di dalam kampus, lokasi ini masih berpeluang ramai ketika sore atau hari libur. Syaratnya, pilihlah pintu masuk pejalan kaki atau sepeda motor. Jangan terlalu berharap pada pintu gerbang utama yang biasanya hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda empat.

Mengapa begitu? Karena, pemilik mobil biasanya datang dari kalangan berada, menengah ke atas. Wajarnya mereka bisa membeli buku tanpa harus buku fotokopi. Pertimbangan lainnya, mobil membutuhkan tempat parkir luas. Sementara lokasi fotokopi tidak selamanya memiliki area tersebut. Di UPI misalnya, mahasiswa pascasarjana sebagian di antaranya merupakan pegawai atau bahkan pejabat pemerintah yang datang bermobil. Tipikal ini jangan terlalu diharapkan pemilik fotokopi di pintu masuk atau kos-kosan. Biasanya, mereka sudah memanfaatkan jasa orang lain yang berkeliaran di kampus pascasarjana.

Karakter di pusat konsentrasi mahasiswa lain lagi. Boleh dibilang tempat ini konstan sepanjang hari. Cuma saja, jarang mendapatkan order penggandaan partai besar seperti halnya di kampus. Biasanya, mahasiswa lebih memilih lokasi di dekat mereka untuk keperluan penggandaan buku maupun tugas hingga skripsi. Pola lainnya, mereka menyimpan pekerjaan saat pulang kuliah untuk kemudian diambil keesokan harinya ketika berangkat. Bisa saja sebaliknya, menyimpan saat berangkat dan mengambil saat pulang.

Di luar tiga lokasi di atas, pasar potensial tentu saja kantor-kantor pemerintahan dan sekolah. Tipe lokasi ini lebih bisa dikategorikan umum. Karena itu, apabila membidik kalangan tersebut, pilihlah lokasi yang relatif dekat dengan keramaian. Sebaiknya memilih jalan raya. Pinggir jalan diharapkan mampu menjaring konsumen umum, baik individu maupun lembaga. Kelebihan lokasi ini adalah bisa menyisir konsumen sepanjang hari hingga malam.

Calon wirausahawan fotokopi sebaiknya melakukan survei terlebih dahulu. Perlu diingat, meskipun tempat-tempat di atas bisa dibilang yang paling baik, namun harus diperhatikan aspek kompetisi. Hitunglah ada berapa copy centre di lokasi-lokasi tersebut. Cobalah kalkulasi kebutuhan jasa dengan keberadaan copy centre. Jangan sekali-sekali memilih pasar jenuh. Kalau memaksa karena tidak ada lagi tempat, tentukan diferensiasi  secara cermat. Misalnya dari kelengkapan atau kualitas layanan. Sebagai gambaran, semakin lengkap sebuah copy centre menyediakan barang atau jasa, semakin besar kemungkinan tempat tersebut didatangi konsumen. Pada umumnya konsumen lebih menyukai memenuhi kebutuhannya di satu tempat.

 

C.     Memilih Mesin

Mesin fotokopi telah berkembang dengan cepat. Saat ini, mesin fotokopi tidak lagi sebagai pengganda lembaran dokumen. Mesin digital sudah memperkaya fungsinya menjadi scanner dan printer. Bahkan, seri-seri tertentu sudah bisa digunakan sebagai media menyimpanan dokumen dalam bentuk soft copy. Untuk seri khusus tersebut, dokumen dipindai untuk kemudian disimpan dalam hard drive komputer. Artinya, mesin fotokopi sudah terintegrasi dengan perangkat komputer. Dengan tambahan jaringan telekomunikasi, mesin fotokopi sudah bisa difungsikan sebaai mesin faksimili. Wow, komplet bukan?

Pemilik usaha bebas memilih mesin mana yang akan digunakan. Cuma saja, seperti disinggung di atas, pemilihan mesin lebih baik disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Bila pasar tidak menuntut scanner dan faksimili, maka fitur tersebut bisa ditunda. Tipikal konsumen kampus perguruan tinggi misalnya, mereka lebih cenderung membutuhkan fotokopi cepat dan print out. Beda lagi dengan copy centre di area umum yang kemungkinan terdapat konsumen yang membutuhkan pemindaian dan faksimili. Bila mengejar ideal, maka copy centre di pinggir jalan sebaiknya memiliki fitur lebih lengkap.

Sekarang saatnya memilih mesin. Selain pertimbangan konsumen, pemilihan mesin juga sebaiknya mempertimbangkan kemudahan spare part dan service. Hal ini penting karena mesin fotokopi rentan terhadap kerusakan suku cadang, terutama dengan pemakaian maksimum. Karena itu, pilihlah suplier yang memberikan garansi cukup lama. Biasanya garansi mesin rekondisi selama enam bulan. Namun, ada juga suplier yang bersedia memberikan garansi hingga satu tahun. Penulis sendiri beruntung menemukan suplier tipe kedua ini.

Bila dihadapkan pada pilihan mesin rekondisi atau baru, maka sebaiknya memilih rekondisi. Alasannya, mesin rekondisi yang didatangkan importer pada umumnya masih dalam kondisi bagus. Mesin bekas pakai Singapura atau Jepang tersebut memiliki counter, akumulasi jumlah pengopian,  yang sedikit untuk ukuran Indonesia. Tapi, jangan sampai memilih mesin bekas pakai Indonesia. Karena itu, ceklah mesin dengan seksama. Bawa serta teknisi untuk memastikan kondisi mesin masih baik.

Komponen utama yang harus diperhatikan saat memilih mesin adalah drum. Silinder dalam jeroan mesin pengganda ini menjadi semacam jantung mesin itu sendiri. Hasil kerja penggandaan maupun pencetakan dokumen untuk print out sangat ditentukan kondisi mesin ini.

Lakukan pengecekan untuk counter. Bila masih di bawah satu juga, anggaplah mesin masih layak pakai. Dengan melihat counter, kita bisa memastikan mesin tersebut baru diimpor atau sudah digunakan di Indonea. Mesin bekas pemakaian lokal biasanya tidak kurang dari lima juta. Padahal, usia mesin hanya sampai pada counter 10 juta. Artinya, bila mesin sudah mencetak dokumen hingga 10 juta, maka mesin akan mati. Berkaitan dengan hal itu, maka pemilik harus menghitung biaya akkumulasi penyusutan mesin dalam menetapkan harga jasa.

Pilihan mesin fotokopi juga ditentukan oleh harga. Teknologi mesin berbanding lurus dengan harga. Semakin canggih mesin, semakin mahal harganya. Mesin rekondisi Canon seri digital misalnya, terentang mulai Rp 20 juta hingga Rp 35 juta. Harga tersebut berlaku untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Angka Rp 20 juta adalah harga untuk mesin Canon IR 5000/6000. Tipe ini sudah bisa menjalankan fungsi pencetakan dokumen dari komputer. Cuma saja, harga tersebut belum termasuk harga konektor mesin dengan komputer. Untuk paket komplet, IR 5000/6000 bisa diperoleh dengan harga Rp 24 juta.

Berikut garmbaran kualifikasi mesin Canon berdasarkan seri.

Type Copy Speed Zoom Copy Size Panel Toner Berat Mesin Besar Watt Digit Max
NP 6035 35 CPM 50%-200% Max A3 Analog/TS Serbuk 63,5 kg 1,3 Kw -999
IR 1600 16 CPM 50%-200% Max A3 Digital Serbuk 60 kg 1,3 Kw -999
IR 3300 33 CPM 25%-400% Max A3 Touch Screen Serbuk 95 kg 1,3 Kw -999
IR 5000 50 CPM 25%-400% Max A3 Touch Screen Serbuk 185 kg 1,5 Kw -999
IR 8500 85 CPM 25%-400% Max A3 Touch Screen Serbuk 198 kg 1,5 Kw -999

 

D.    Menghitung Harga Fotokopi

Tetapkanlah harga yang tepat. Tepat berarti mempertimbangkan aspek-aspek strategis bisnis. Dengan begitu, harga bisa mahal atau bahkan sangat murah. Murah tapi kualitas rendah tentu bukan harga tepat. Dalam jangka panjang, kualitas akan berdampak pada hilangnya konsumen. Sementara harga terlalu mahal juga memberatkan konsumen. Terlebih bila di lokasi tersebut terdapat banyak kompetitor. Konsumen bisa dengan sangat mudah memilih jasa yang cocok dengan mereka.

Berikut ini simulasi penetapan harga jasa fotokopi per lembar. Perhitungan harus sudah memperhatikan biaya transportasi yang dikeluarkan. Hitunglah jarak lokasi usaha dengan tempat mendapatkan barang atau consumable. Berapa ongkos yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang tersebut. Dari situ, mulailah menghitung harga per lembar. Begini kira-kira perhitungannya. Ambillah contoh harga kertas standar Rp 30 ribu per rim. Berarti, harga kertas per lembar adalah Rp 30 ribu dibagi 500. Keluarlah angka Rp 60. Jadi, modal kertas adalah Rp 60.

Kemudian harga tinta atau toner.  Kita ambil contoh toner MCM Super untuk mesin IR 5000/6000 seharga Rp 100 ribu per kilogram. Pengalaman membuktikan, satu kilogram toner  bisa digunakan untuk mencetak 10 ribu lembar atau 20 rim. Berarti, harga toner dalam satu lembar adalah Rp 10. Harga ini tetap berlaku untuk kertas yang macet maupun gagal cetak.

Hitung pula biaya pemakaian listrik. Ambil saja contoh pembayaran rekening listrik Rp 500 ribu per bulan. Perkirakan selama sebulan tersebut mencetak 75 ribu lembar. Dengan begitu, harga listrik per lembar adalah Rp 3,4. Ini apabila seluruh biaya listrik dibebankan kepada komponen fotokopi. Bila akan dibebankan ke dalam beberapa pekerjaan lain, tentu bisa dikurangi. Misalnya komponen pembaginya adalah laminasi, komputer, scanner, atau bahkan speaker aktif, televisi, radio, dan lain-lain.

Selanjutnya, berapa gaji karyawan per bulan. Ambil contoh Rp 1 juta. Jumlah tersebut dibagi ke dalam dokumen tercetak, 75 ribu lembar. Berarti biaya karyawan per lembar adalah Rp 13. Jika jumlah karyawan lebih dari satu, tinggal tambahkan sesuai kebutuhan. Yang pasti, semakin banyak karyawan, semakin banyak gaji yang harus dikeluarkan.

Mesin tentu saja tidak bisa dipakai selamanya. Karena itu, hitunglah biaya penyusutan mesin fotokopi.  Dengan pemakaian normal, mesin rekondisi asal Singapura bisa digunakan selama tiga tahun. Artinya, dalam tiga tahun mesin harus diganti. Idealnya, harga beli mesin sudah kembali dalam tiga tahun. Misalnya harga mesin Rp 24 juta, berarti Rp 24 juta dibagi 36 bulan lalu dibagi lagi 75 ribu lembar. Keluar angka Rp 8,9.

Selanjutnya, jumlahkan komponen biaya tersebut.  Rp 60 + Rp 10 + Rp 3,4 + Rp 13 + Rp 8,9 = Rp 95,3. Itulah modal dalam satu lembar kertas. Biaya tersebut belum dihitung biaya service dan spare part. Bila mengambil paket service tahunan sebesar Rp 500 ribu, berarti harga service per lembar adalah Rp 500 ribu dibagi 12 lalu dibagi lagi 75 ribu. Jumlahnya Rp 0,6. Dengan tambahan ini, harga per lembar menjadi Rp 95,9. Sebagai catatan, pemilik copy centre sudah memiliki tempat sendiri. Jika belum, tambahkan sebagai komponen biaya. Selanjutnya tinggal menghitung keuntungan yang akan diambil.

Selain fotokopi, jasa lain juga bisa dihitung. Mungkin margin keuntungan dari fotokopi kecil. Karena itu, siasati dengan menetapkan harga yang tepat untuk jasa lain. Harga jilid misalnya, hitunglah komponen harga kertas jilid, plastik laminasi, lem, hekter. Tingkat kerumitan pekerjaan juga menjadi perhitungan tersendiri. Karena itulah harga hard cover jauh lebih mahal daripada soft cover. Padahal, komponen bahannya hanya berbeda dalam kertas karton tebal untuk menguatkan sampul.

Beda lagi dengan penentuan harga alat tulis kantor (ATK). Penentuan ini lebih fleksibel karena harganya tidak kontras dibanding harga fotokopi itu sendiri. Harga-harga ATK tidak akan dijadikan patokan bagi konsumen untuk memilih tempat fotokopi. Namun begitu, pandai-pandailah dalam menetapkan selisih harga. Kelangkaan barang juga bisa menjadi pertimbangan terssendiri. Pensil misalnya, meski harga grosir tipe 2B, B, H, 4B, 5B, F, dan varian lainnya sama, namun harganya bisa dibanderol berbeda. Harga pensil 2B mungkin tidak bisa dibedakan menonjol karena hampir semua copy centre menyediakannya. Tidak demikian halnya dengan varian lain yang memang jarang ada dijual di pasaran.

 

E.     Makin Komplet Makin Baik

Pada akhirnya, copy centre bukan semata menyediakan jasa penggandaan dokumen. Ingat, konsumen tidak datang dengan satu keperluan. Ambil contoh seorang pelamar kerja yang akan memfotokopi ijazah untuk kelengkapan persyaratan. Pada saat bersamaan, yang bersangkutan juga membutuhkan amplop kabinet, lem, bahkan daftar riwayat hidup instan yang sudah diproduksi massal. Bila copy centre tersebut sudah menyediakan, maka si pelamar tidak perlu mencari ke tempat lain. Itu hanya satu contoh. Banyak tipikal konsumen lain yang membutuhkan banyak jasa atau barang di copy centre.

Secara konvensional, copy centre memang tempat menyediakan jasa penggandaan dokumen. Dalam level paling dasar, copy centre sudah menyediakan keperluan penjilidan. Setidak-tidaknya penjilidan standar, yakni jilid lakban, blok lem, soft cover, dan hard cover. Selangkah lebih bagus adalah jilid ring, baik plastik maupun kawat. Copy centre standar juga sudah menyediakan pulpen, buku tulis, aneka map, amplop, dan lain-lain. Tanpa kelengkapan itu, sulit bagi copy centre bersangkutan untuk bersaing dengan kompetitor. Faktanya, makin lengkap koleksi ATK dan layanan, semakin ramai copy centre yang bersangkutan.

Dalam perkembangannya, copy centre memosisikan diri sebagai penyedia layanan terpadu pengolahan dokumen. Pengolahan berarti penggandaan, pengetikan, print out, laminasi, hingga terjehaman bahasa asing. Tempat tersebut juga menjadi penyedia ATK secara lengkap. Lengkap tidak semata-mata berarti banyak. Sedapat mungkin item barang terus diperbanyak. Ini penting untuk memberikan pilihan kepada konsumen dalam memilih barang. Pulpen misalnya, terentang mulai standar dengan harga Rp 1.500 hingga Rp 20 ribu. Biarlah konsumen yang menentukan akan memilih yang mana.

Belajar dari pengalaman, pengelola akan menemukan dengan sendirinya komoditi pilihan konsumen. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik lokasi. Bila lokasinya di kampus perguruan tinggi, maka barang-barang kelas menengah yang kemungkinan laku keras. Sementara bila memilih dekat sekolah dasar, maka harga murah pilihan utama. Variannya juga berbeda antara kebutuhan mahasiswa dengan murid sekolah dasar.

Ketika komoditas laris sudah ditemukan, selanjutnya adalah memilih suplier yang sanggup memberikan harga kompetitif. Metode pembayaran juga cukup berpengaruh. Bila ada suplier yang siap memberikan harga kredit, sebaiknya itu yang dipilih. Namun, jangan sampai menumpuk utang tanpa memperhitungkan kemampuan bayar. Bagi pemula, layanan kredit mungkin masih sulit. Suplier belum percaya kepada kemampuan bayar atau bahkan kejujuran pemilik copy centre. Bangunlah kepercayaan itu dengan membeli produk secara tunai terlebih dahulu. Biasanya, suplier bersedia dibayar kredit untuk transaksi keempat dan seterusnya. Jagalah kepercayaan itu karena harganya sangat mahal. Bila sudah tidak dipercaya, maka jangan harap bisa mendapat kesempatan kedua.

Perlu diingat, aneka kebutuhan tersebut tidak bisa diperoleh di satu tempat. Karena itu, kenalilah sebanyak mungkin suplier atau grosir. Selain memudahkan mendapatkan barang, pengetahuan akan diferensiasi suplier atau grosir juga penting untuk menghindari monopoli harga. Kita bisa dengan sangat mudah membandingkan harga di satu tempat dengan tempat lainnya. Bisa jadi, barang A lebih murah di toko X. Sementara barang B lebih murah di toko Y. Carilah akses mendapatkan barang di distributor tunggal. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan harga lebih rendah dibanding peritel besar sekalipun.

 

F.      Pentingnya Promosi

Perusahaan-perusahaan besar menghabiskan tidak kurang dari sepertiga biaya untuk promosi. Ini mengindikasikan betapa pentingnya promosi dalam dunia marketing. Perlukah copy centre mengeluarkan biaya promosi sebanyak itu? Hal ini bergantung kepada lokasi dan usia bisnis. Jika tempat kita strategis, mungkin biaya promosi bisa ditekan. Beda lagi bila kita berniat menciptakan pusaran baru bisnis di suatu wilayah. Mudahnya, bila kita membuka usaha fotokopi di daerah mahasiswa, maka biaya promosi bisa murah. Lagi pula, di sana sudah banyak usaha sejenis. Jika begitu, maka tujuan promosi bukan mengenalkan diri, melainkan langsung kepada kompetisi harga dan kualitas layanan. Beda lagi ketika membuka copy centre di tempat baru, di mana kita adalah satu-satunya pemain. Berarti, pekerjaan utama adalah mengenalkan diri.

Pertanyaannya, bagaimana cara promosi yang tepat? Jawabannya relatif mudah. Perlakukanlah konsumen sebaik mungkin. Bila konsumen puas, maka dia akan dengan senang hati memberi tahu atau bahkan merekomendasikan orang lain untuk datang ke tempat kita. Pekerjaan utamanya berarti mencari pelanggan awal. Cara ini bisa ditempuh dengan memanfaatkan media publikasi atau selebaran sekalipun. Ketika banyak operator telekomunikasi memberikan tarif murah, manfaatkan untuk menghubungi sebanyak mungkin orang. Cara lain adalah menggunakan media internet. Selain murah, internet juga memiliki jangkauan tak terhingga.

Pada awal pendiriannya, Violet Copy Centre yang saya kembangkan getol mencari pamflet atau spanduk seminar. Lazimnya media publikasi, pamflet atau poster dan spanduk mencantumkan nomor kontak panitia. Nah, nomor-nomor itulah yang dihubungi untuk menawarkan jasa fotokopi. Tak hanya itu, Violet juga memberikan diskon untuk paket seminar atau sejenisnya. Bonus lainnya adalah layanan antar jemput. Dalam hal ini, panitia cukup menyediakan bahan seminar di tempat atau mengirimkannya melalui surat elektronik (email). Selanjutnya, kru Violet akan menjemput atau mengunduhnya dari email untuk kemudian digandakan dan diantar ke tempat panitia. Cara ini cukup berhasil karena kebanyakan panitia kegiatan tidak mau direpotkan dengan hal-hal teknis.

Jurus promosi lain yang dikembangkan Violet Copy Centre adalah menyelenggarakan undian. Hal ini penting untuk menarik minat awal konsumen. Kuncinya, sediakan hadiah yang seolah-olah mahal atau unik. Contohnya, fotokopi berhadiah nonton film di bioskop atau beasiswa fotokopi gratis. Ingat, promosi adalah menambah nilai tambah jasa atau produk. Untuk menonton film misalnya, Violet mendapatkan tiket dengan cara murah melalui jaringan bioskop. Atau, fotokopi berhadiah mug cantik senilai Rp 15 ribu. Harga mug di supermarket memang Rp 15 ribu. Padahal, kita bisa membeli hanya dengan Rp 3 ribu di grosir.

Masih dalam skema promosi adalah pembelian garansi. Garansi jilid misalnya. Contohnya, garansi jiid hard cover selama sebulan. Artinya, bila dalam sebulan jilid tersebut rusak, maka konsumen bisa membawa kembali untuk kemudian diganti jilidnya tanpa membayar lagi. Ini juga sekaligus komitmen untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Tentu kita tak ingin membuang-buang biaya untuk mengganti jilid. Karena itu, sejak awal penjilidan dilakukan dengan baik. Pilihlah lem terbaik untuk menghindari berkurangnya daya rekat. Rajinlah berinteraksi dengan konsumen. Jangan lupa meminta masukan untuk memperbaiki pelayanan kita.

Skema promosi juga bisa diwujudkan dengan diskon. Untuk fotokopi dalam jumlah tertentu, berikanlah diskon yang wajar. Ingat, kita sudah punya patokan modal yang harus dikeluarkan untuk setiap lembar fotokopi. Berarti, pemberian diskon jangan sampai merusak harga kita sendiri. Misalnya, fotokopi 500 lembar dapat diskon lima persen. Atau, setiap print out ebook senilai Rp 100 ribu, gratis satu kali jilid soft cover.

 

Post

Wirausaha Jasa Fotokopi (4)

In Jurnal on April 5, 2011 by Litera Media

Penyelarasan Dunia Kerja

 

Tema pendidikan dan dunia usaha tampaknya bukan semata milik Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Pada Januari 2010 lalu, pemerintah membentuk tim penyelaras pendidikan dan dunia usaha. Meski menetapkan Kemdiknas sebagai koordinator, tim ini melibatkan 23 lembaga negara dan asosiasi profesi. Masuk dalam tim tersebut antara lain Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja  Indonesia, dan sejumlah kementerian teknis.

Kemunculan tim ini mengonfirmasi bahwa lulusan pendidikan masih belum mencapai hasil yang optimal. Indikasinya, masih banyak lulusan dari berbagai jenjang pendidikan yang belum terserap dalam dunia kerja atau mampu untuk berwirausaha. Program rintisan Kabinet Indonesia Bersatu II ini menyusun program penguatan relevansi antara pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja untuk mendukung pembangunan ekonomi baik dilihat dari sisi pasokan (supply side) maupun sisi permintaan (demand side). Program ini menitikberatkan pada pembekalan kompetensi lulusan yang berjiwa wirausaha dan selaras dengan kebutuhan di dunia kerja.

Dokumen kerangja kerja program ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keterkaitan dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam mewujudkan program Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja. Pemerintah berharap program ini dapat terwujud masyarakat Indonesia yang memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk ikut bersama-sama memajukan bangsa melalui penyiapan sumberdaya manusia yang mampu bekerja secara profesional, menciptakan lapangan kerja, berwirausaha dan menjawab tantangan kebutuhan pasar kerja. Berikut konsep penyelarasan pendidikan dan dunia kerja yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Nasional.

 

Kerangka Kerja Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Prinsip-prinsip Penyelarasan

Pada dasarnya penyelarasan merupakan upaya penyesuaian pendidikan sebagai pemasok SDM dengan dunia kerja yang memiliki kebutuhan dan tuntutan yang dinamis. Konsep penyelarasan mengisyaratkan adanya kebutuhan koordinasi yang baik antara pihak penyedia lulusan pendidikan dengan pihak yang membutuhkan tenaga lulusan. Analisis kebutuhan dunia kerja yang meliputi kualitas/kompetensi dan kuantitas  pada lokasi dan waktu yang berbeda merupakan informasi awal yang perlu disediakan dalam proses penyelarasan. Informasi kebutuhan dunia kerja yang akurat dan rencana pengembangan nasional di berbagai sektor diperlukan dalam reengineering sistem pendidikan pada setiap level dan bidang dalam menyediakan SDM sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Reengineering seluruh aspek pendidikan, baik pada aspek sarana prasarana, tenaga pendidik, maupun sistem pembelajaran, harus ditujukan untuk pencapaian keselarasan antara pendidikan dan dunia kerja. Upaya penyelarasan yang optimal melalui implementasi rangkaian program yang sistematis dan berkesinambungan sangat diperlukan adanya rasa memiliki dan keterlibatan semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat pada umumnya.

Konsep pengembangan kerangka kerja penyelarasan pendidikan harus memperhatikan tiga komponen utama yaitu  sisi permintaan, sisi pasokan dan mekanisme penyelarasan. Dalam merumuskan program penyelarasan yang bersifat komprehensif dibutuhkan gambaran kedepan dari beberapa dimensi yang relevan. Proyeksi kebutuhan kedepan terhadap kompetensi yang dibutuhkan dari dunia kerja dan jumlahnya pada setiap lokasi di Indonesia sangat diperlukan dan harus mengacu pada karakteristik khusus dan potensi yang dimiliki lokasi/daerah tersebut, untuk itu informasi rencana pengembangan diperlukan sebagai dasar peramalan ke depan. Pertimbangan rencana pembangunan daerah dalam program penyelarasan memberikan diharapkan dapat mengurangi terjadinya disparitas dalam hal aksesibilitas dan mampu mendayagunakan potensi yang ada di daerah.

Model permintaan yang didisain harus mampu menghasilkan informasi kebutuhan tenaga kerja dan peluang usaha di pasar kerja dan juga  dapat memberikan gambaran fungsi dan peran yang seharusnya dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan semua Kementerian yang membina berbagai sektor kegiatan ekonomi antara lain sektor manufaktur dan pengolahan, sektor pertanian (pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan), sektor telekomunikasi, sektor perdagangan, sektor perhubungan, sektor PU/jasa konstruksi dan sektor keuangan dan jasa lainnya. Informasi ini dapat menjadi acuan untuk pihak penyedia pendidikan dalam merencanakan dan menetapkan kurikulum serta kebijakan pendidikan lainnya. Kebijakan pembangunan pendidikan seperti : penyediaan sarana pra sarana, peningkatan kompetensi guru atau dosen dalam mendidik siswa atau mahasiswa, dan sistem pembelajaran atau kurikulum yang berlaku harus didasarkan pada kebutuhan penyelarasan dengan dunia kerja. Sementara itu, model pasokan juga harus menggambarkan interaksi antar aktivitas input-proses-output yang dikehendaki serta fungsi dan peran dari pemangku kepentingan berada pada sisi pasokan.

 

Kerangka Kerja Penyelarasan

 

Penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja dilakukan dengan menyesuaikan pola pasokan/pendidikan dengan permintaan dari dunia kerja. Kondisi permintaan akan bervariasi berdasarkan sektor bidang kerja (industri barang dan jasa) pada beberapa sektor lapangan kerja. Disamping itu, juga perlu didasarkan pada peta kondisi berdasarkan empat dimensi yaitu kualitas, kuantitas, lokasi dan waktu. Kondisi permintaan akan mengendalikan sistem pendidikan di sisi pasokan. Sistem pendidikan yang termasuk didalamnya pelatihan perlu didisain sedemikian rupa sehingga mampu menjawab kebutuhan permintaan berdasarkan empat dimensi yang sama. Sehingga perlu dilakukan deployment untuk merancang sistem pendidikan yang berkualitas baik dari sisi sarana prasarana, pendidik dan sistem pembelajarannya. Ketiga aspek yang perlu di disain ulang tersebut dilakukan pada setiap level pendidikan pada pendidikan formal dan setiap jenis pelatihan serta aktivitas pendidikan lainnya.

Proses penyelarasan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya pihak yang berada di tengah sebagai mediasi atau penyelaras. Pihak yang diharapkan menjadi penyelaras antara sisi pasokan dan sisi permintaan harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengawal dan memfasilitasi proses penyelarasan melalui optimasi peran dan fungsi masing-masing. Penyelarasan dilakukan melalui penyediaan kebijakan yang mendukung, mekanisme dan prosedur sertifikasi yang mampu menetapkan sertifikasi sesuai kebutuhan kompetensi dunia kerja, program-program sinergi lintas kementerian dan institusi, serta konsistensi dalam menjaga proses penyelarasan ini. (http://www.penyelarasan.kemdiknas.go.id/)

 

Post

Wirausaha Jasa Fotokopi (3)

In Jurnal on April 5, 2011 by Litera Media

PNF Pro Kewirausahaan

 

Ungkapan bahwa pendidikan formal gagal dalam mendidik calon wirausahawan boleh jadi berlebihan. Faktanya, sebagian besar lulusan pendidikan formal lebih banyak terserap sebagai tenaga kerja. Survei BPS menunjukkan, semakin tinggi pendidikan, semakin rendah kecenderungan seseorang untuk menjadi wirausahawan. Mereka lebih memilih menjadi pegawai alias karyawan. Namun begitu, pendidikan –baik formal maupun nonformal– berperan besar dalam transformasi struktur ekonomi, dari agraris menuju industri.

Program-program perluasan pendidikan yang mulai dilakukan sejak awal tahun 1970-an telah berhasil meningkatkan proporsi angkatan kerja. Sementara itu, proporsi angkatan kerja berpendidikan rendah relatif terus menurun. Dengan kesempatan pendidikan yang semakin meluas, diharapkan struktur angkatan kerja Indonesia semakin didominasi oleh pekerja terampil, terdidik, dan profesional.

Ace Suryadi, mantan direktur jenderal pendidikan luar sekolah (kini pendidikan nonformal dan informal), menegaskan bahwa produktivitas nasional akan meningkat jika sektor industri atau sektor remuneratif didominasi oleh pekerja yang demikian. Pada titik ini, struktur ekonomi Indonesia mulai bergeser secara nyata menuju tercapainya struktur ideal suatu masyarakat industri.  Perubahan struktur ketenagakerjaan ini akan semakin cepat terwujud jika perluasan sistem pendidikan dibarengi oleh peningkatan mutu dan relevansinya dengan kebutuhan lulusan, masyarakat, dan lapangan kerja.

Dalam labor economics, imbuh Ace, manusia lebih dikonsepkan sebagai labor atau salah satu faktor produksi (production factor) di samping modal, mesin, tanah, atau lainnya. Sebaliknya, ekonomi SDM menganggap keliru jika manusia dikonsepkan sebagai faktor produksi yang hanya dipekerjakan di dalam suatu sistem produksi. Produktivitas industri akan meningkat secara signifikan jika modal, teknologi, dan faktor-faktor produksi dikelola secara efisien. Hanya manusia yang berkualitas yang mampu mengelola dan menggerakan semua faktor produksi untuk mencapai produktivitas yang optimal.

Dengan konsep ini, SDM dianggap sebagai sumber kekuatan di luar faktor produksi konvensional yang mampun menjadi sumber penggerak (driving force) terhadap suatu sistem produksi. Dalam industri kreatif, misalnya, input suatu produk kreatif adalah kreativitas manusia itu sendiri, dan pengembangan kreatvitas itu merupakan hasil dari investasi manusia sebagai kapital.

Lebih jauh Ace mengungkapkan, pendidikan berperan besar dalam mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM). Hal ini sejalan dengan teori bahwa semakin baiknya tingkat pendidikan suatu bangsa akan mempercepat proses pembangunan masyarakat. Pendidikan yang bermutu akan mempercepat peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kualitas manusia, serta produktivitas masyarakat dan bangsa itu. Apabila kondisi ini tercapai, maka daya saing suatu bangsa di antara negara-negara di dunia juga akan semakin baik.

Sejalan dengan paradigma ekonomi, pendidikan merupakan upaya mempersiapkan sumber daya manusia (human invesment) yang akan menghasilkan manusia-manusia yang andal untuk menjadi subyek penggerak pembangunan ekonomi nasional. Karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan lulusan-lulusan bermutu yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi, dan mempunyai keterampilan teknis memadai. Pendidikan harus dapat menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang memiliki kemampuan kewirausahaan yang menjadi salah satu pilar utama aktivitas perekonomian nasional.

Secara global, berbagai bangsa di dunia telah mengembangkan knowledge-based economy (KBE), yang mensyaratkan dukungan SDM berkualitas. Karena itu, pendidikan mutlak diperlukan guna menopang pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (education for the knowledge economy). Dalam konteks ini, satuan pendidikan harus pula berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development), yang menghasilkan produk-produk riset unggulan yang mendukung KBE.

Pertanyaannya, pendidikan seperti apa yang bisa mewujudkan sebuah idealisasi di atas? Tanpa menafikan pendidikan formal, sudah saatnya pendidikan nonformal (PNF) menjadi fokus akselerasi. Mengapa PNF? Padahal, masyarakat dan dunia persekolahan sering kali kurang memperhitungkan eksistensi PNF. Bahkan, menganggapnya berada di luar mainstream pendidikan.

Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan melihat sifat layanan PNF yang fleksibel, cepat, dan memberikan keterampilan untuk segera mendapatkan pekerjaan atau usaha mandiri. Kalau sudah begitu, satuan PNF menjadi pilihan alternatif masyarakat untuk meningkatkan kehidupan. Berbagai layanan PNF seperti kursus yang dimiliki dan dikelola masyarakat telah banyak meluluskan siswa didiknya untuk bekerja atau berusaha mandiri.

Direktorat Kursus dan Kelembagaan Direktorat Jenderal PNFI Kementerian Pendidikan Nasional merilis saat ini terdapat 164 jenis kursus. Lembaga kursus dan pelatihan (LKP) tersebut merupakan lembaga mandiri. Mereka memberikan layanan pendidikan sesuai kebutuhan masyarakat. Orientasinya jelas: pasar. Keberadaannya juga diterima masyarakat.

Dibanding pendidikan formal, LKP berhasil mendesain kurikulum dan bahan ajar aktual. Proses pembelajaran terfokus dan kompetensi lulusan yang terstandar. Kursus juga telah melakukan banyak inovasi untuk menjalin kemitraan dengan dunia usaha dan industri, sehingga terjadi matching lulusan kursus dengan dunia kerja.

Ace Suryadi mengumpamakan pendidikan sebagai sebuah bangunan gedung tinggi. Lantai dasar dihuni oleh pendidikan dasar, bagian tengah untuk pendidikan menengah, dan bangunan paling atas untuk pendidikan tinggi. Nah, persoalannya di manakah letak PNF? Ace berpendapat, sesungguhnya PNF tidak berada dalam mainstream dan pekarangan bangunan pendidikan. PNF berada di luar bangunan dan pekarangan, PNF berada langsung di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kiprah utamanya adalah untuk menjangkau yang belum terlayani.

PNF bersama masyarakat, menjadi penonton bangunan pendidikan dengan segala polah dan carut marutnya. PNF senantiasa menyusun berbagai inovasi pendidikan nonformal bersama masyarakat yang kemudian menjadi new mainstream (arus baru) yang akan diikuti pendekatan dan strateginya oleh jalur pendidikan lain.

Pakar ekonomi pendidikan tersebut mengungkapkan, layanan PNF kini sedang membangun arus pendidikan yang berorientasi pasar nasional dan internasional. Peningkatan mutu layanan pendidikannya dilakukan melalui standardisasi, akreditasi, dan sertifikasi lulusan berdasar kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Selain itu, kompetensi lulusan kerja dilandasi oleh nilai-nilai profesional, sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk cepat bekerja sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan atau lembaga.

Sejalan dengan paradigam economic development, pemerintah menetapkan kebijakan PNF untuk pendidikan kecakapan hidup (PKH). Dalam hal ini, melaksanakan beberapa hal strategis agar PKH dapat efektif dan bermanfaat bagi peserta didik pendidikan nonformal. Pertama, mendorong lembaga berwenang untuk mengembangkan standardisasi, akreditasi, dan sertifikasi serta penguatan kemampuan lembaga pendidikan nonformal. Kedua, mengupayakan perluasan peserta didik yang orang tuanya miskin dan orang dewasa miskin dan/atau pengangguran agar memperoleh kompetensi yang dapat dijadikan modal untuk usaha mandiri atau bekerja.

Ketiga, melibatkan seluruh komponen pendidikan khususnya satuan-satuan pendidikan nonformal, seperti LKP, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), lembaga pengembangan/pemberdayaan terpadu masyarakat (LPTM), organisasi sosial (Orsos), organisasi kemasyarakatan (Ormas), lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi perempuan. Komponen pendidikan formal juga dilibatkan, yakni sekolah kejuruan, politeknik dan lembaga pengabdian masyarakat perguruan tinggi (LPM-PT). Keempat, membangun jaringan kerja dengan stakeholder pendidikan untuk pengembangan kursus dari kalangan dunia usaha dan industri.

Keseriusan pemerintah juga diwujudkan dengan menetapkan tujuan PKH sebagai salah satu dari lima tujuan yang ingin dicapai. Yakni, melaksanakan program-program pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan keterampilan, keahlian, kecakapan, serta nilai-nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas dan kemandirian berusaha bagi pesertanya. Nah, untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah menempuh beberapa kebijakan strategis. Kebijakan itu meliputi:

  1. Mengembangkan kursus berstandar internasional dan nasional serta inovasi layanan kursus pada masyarakat.
  2. Merintis model PKH-PLS wirausaha pedesaan, berbasis pengembangan potensi unggulan daerah serta wirausaha bagi para penganggur perkotaan, termasuk meningkatkan PKH-PLS bagi para pekerja (refitting).
  3. Merintis atau mengembangkan model pendidikan paraprofesi untuk penyaluran kerja di dalam maupun di luar negeri.
  4. Mengembangkan literasi komputer ICDL dalam kerangka revitalisasi peran dan fungsi BPKB/SKB untuk memberikan sertifikasi komputer yang berstandar internasional.
  5. Mengembangkan konsorsium-konsorsium kursus dan pelatihan paraprofesi.
  6. Meningkatkan mutu dan manajemen kursus melalui standardisasi, akreditasi, uji kompetensi, uji  profesi, dan sertifikasi berstandar nasional maupun internasional.

Direktorat Kursus dan Kelembagaan sendiri mendesain program kursus dan pelatihan yang lebih pro kepada kewirausahaan. Berikut kursus tematik yang dikembangkan tersebut:

  1. Kursus Para Profesi (KPP), berupa layanan yang diberikan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi keterampilan tertentu sebagai bekal untuk bekerja. Contohnya adalah penata laksana rumah tangga (PLRT) dan menjahit garmen.
  2. Kursus Wirausaha Kota (KWK), yaitu program bagi masyarakat di bidang usaha berciri perkotaan. Contohnya kursus komputer, perbengkelan, menjahit, dan program lainnya.
  3. Kursus Wirausaha Desa (KWD), berupa pemberian kesempaatan belajar bagi masyarakat yang dapat dijadikan bekal untuk berusaha atau bekerja di perdesaan. Contohnya kursus wirausaha budidaya ikan, ternak dan tanaman, pengolahan makanan berbahan dasar hasil potensi lokal.
  4. Kursus Wirausaha Desa (KWD) bagi Daerah Tertinggal, yaitu layanan kursus dan pelatihan bagi peserta didik di kawasan daerah tertinggal yang dapat dijadikan bekal untuk berusaha di desanya.
  5. PKH bagi lembaga Kursus dan Pelatihan (PKH LKP), merupakan program kursus dan pelatihan yang dilaksanakan secara khusus oleh lembaga kursus. Jenis keterampilannya sesuai dengan potensi usaha disekitar lembaga.

 

Post

Wirausaha Jasa Fotokopi (2)

In Jurnal on April 5, 2011 by Litera Media

Berharap pada Kewirausahaan

Kewirausahaan atau entrepreneurship menjadi tema populer dalam beberapa tahun terakhir. Selain masuk dalam ranah pendidikan formal maupun nonformal, kewirausahaan juga menjadi banyak pilihan bagi sejumlah perusahaan untuk mengembangkan program corporate social responsibility (CSR). Mari kita simak tentang kewirausahaan ini secara lebih mendalam.

A.    Pengertian Kewirausahaan

Apa sebenarnya kewirausahaan?  Suryana (2003) dalam bukunya Kewirausahaan: Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses mengungkapkan, kewirausahaan pada hakikatnya adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Berasal dari  terjemahan entrepreneurship, kewirausahaan diartikan sebagai the backbone of economy.

Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diperlukan  untuk memulai suatu usaha atau suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan berbeda. Thomas W Zimmerer mengartikan kewirausahaan sebagai penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan permasalahan dan upaya untuk memanfaatkan peluang yang dihadapi sehari-hari. Dalam hal ini, kewirausahaan merupakan gabungan kreativitas, inovasi, dan keberanian menghadapi risiko.

Suryana kemudian menyimpulkan kewirausahaan sebagai kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Simpulan ini bermuara pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different). Perbedaan tersebut bisa diukur dengan parameter di sebagai berikut:

1.      Pengembangan teknologi baru;

2.      Penemuan pengetahuan ilmiah baru;

3.      Perbaikan produk barang dan jasa yang ada;

4.      Penemuan cara-cara baru untuk menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya lebih efisien.

Penekanan pada unsur kreativitas tersebut merupakan bantahan terhadap pendapat lama bahwa kewirausahaan merupakan bakat bawaan sejak lahir (entrepreneurship are born not made). Padangan tersebut menyiratkan pesan bahwa kewirausahaan bukan hal yang penting untuk dipelajari dan diajarkan.

Dalam perkembangannya, kewirausahaan berkembang menjadi sebuah disiplin keilmuan. Artinya, kemampuan seseorang dalam berwirausaha dapat dimatangkan melalui proses pendidikan.  Seseorang yang menjadi wirausahawan adalah  mereka yang mengenal potensi dirinya dan belajar mengembangkan potensinya untuk menangkap peluang serta mengorganisasi usahanya.

Kewisausahaan sebagai disiplin ilmu tersendiri yang independen mendapat penegasan dari Soeharto Prawirokusumo. Menurutnya, ada empat alasan mengapa kewirausahaan pantas mendapat predikat keilmuan. Pertama, kewirausahaan berisi body of knowledge yang utuh dan nyata (distinctive). Yakni, ada teori, konsep, dan metode ilmiah. Kedua, kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi venture start up dan venture growth. Hal ini jelas tidak masuk dalam frame work general management courses yang memisahkan antara management dengan business ownership.

Ketiga, kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Keempat, kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan  pendapatan atau kesejahteraan rakyat yang adil  dan makmur. Barangkali karena keempat alasan itu pula kewirausahaan menjadi tema populer dan berkembang cukup pesat. Banyak orang yang kemudian terjun menjadi wirausahawan.

Dalam makalah Menumbuhkan Jiwa dan Kompetensi Kewirausahaan, Herwan Abdul Muhyi mengidentifikasi sejumlah alasan munculnya wirausahawan-wirausahawan baru. Dosesn program studi Administrasi Niaga Universitas Padjadjaran (Unpad) ini menyebutkan, seseorang tertarik untuk berwirausaha karena hal-hal sebagai berikut:

1.      Alasan keuangan; untuk mencari nafkah, kaya, pendapatan tambahan.

2.      Alasan sosial; untuk memperoleh gengsi atau status untuk dapat dikenal, dihormati dan bertemu orang banyak.

3.      Alasan pelayanan; memberi pekerjaan pada masyarakat.

4.      Alasan pemenuhan diri; untuk menjadi mandiri, lebih produktif dan untuk menggunakan kemampuan pribadi.

 

B.     Mengembangkan Kewirausahaan

Apakah menjadi wirausahawan (entrepreneur) bisa datang serta merta? Tentu saja tidak. Bukan pula sebuah profesi warisan. Sebagai contoh, pendiri jaringan waralaba Kebab Turki Baba Rafi Hendy Setiono memutuskan menjadi seorang entrepreneur setelah mengikuti puluhan seminar. Untuk mewujudkan keseriusannya, Hendy memutuskan berhenti kuliah (lihat boks). Ada juga yang memelajari melalui pendidikan formal, bahkan nonformal. Dalam makalah yang sama, Herwan Abdul Muhyi menyebutkan beberapa cara untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Berikut kesimpulan Herwan:

1.      Melalui pendidikan formal. Kini berbagai lembaga pendidikan baik menengah maupun tinggi menyajikan berbagai program atau paling tidak mata kuliah kewirausahaan.

2.      Melalui seminar-seminar kewirausahaan. Berbagai seminar kewirausahaan seringkali diselenggarakan dengan mengundang pakar dan praktisi kewirausahaan sehingga melalui media ini kita akan membangun jiwa kewirausahaan.

3.      Melalui pelatihan. Berbagai simulasi usaha biasanya diberikan melalui pelatihan baik yang dilakukan dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Melalui pelatihan ini, keberanian dan ketanggapan kita terhadap dinamika perubahan linghkungan akan diuji dan selalu diperbaiki dan dikembangkan.

4.      Otodidak. Melalui berbagai media kita bisa menumbuhkan semangat berwirausaha. Misalnya melalui biografi pengusaha sukses (sucess story), media televisi, radio majalah koran dan berbagai media yang dapat kita akses untuk menumbuhkembangkan jiwa wirausaha yang ada di diri kita.

C.     Kompetensi Wirausaha

Tentu, siapa pun bisa menjadi wirausahawan. Profesi ini sangat terbuka. Untuk menentukan siapa saja yang pantas disebut wirausaha pun relatif sulit. Di Indonesia, meskipun jumlah wirausahawan kurang dari satu persen jumlah penduduk, tidaklah mudah mengidentifikasi kualifikasi yang bersangkutan. Nah, Meredith (2002) mencoba memberi batasan berupa nilai hakiki yang sejatinya melekat pada setiap wirausahawan.

Faktor utama yang harus dimiliki seorang wirausahawan adalah kepercayaan diri (self confidence). Modal utama ini berupa sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan. Kepercayaan diri berpengaruh besar terhadap gagasan, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja, dan gairah dalam berkarya.

Seorang wirausahawan juga senantiasa berorientasi pada tugas dan hasil. Inilah tipikal orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan, dan kerja keras. Modal kedua ini diperoleh melalui inisiatif yang biasanya diperoleh melalui pelatihan atau pengalaman.

Keberanian mengambil risiko juga menjadi prasyarat menjadi seorang wirausahawan. Seperti pebisnis pada umumnya, risiko merupakan batu uji sebelum meraih keberhasilan. Secara umum, risiko besar berbanding lurus dengan keberhasilan. Dengan begitu, siapa yang berani mengambil risiko lebih besar, dialah yang akan mendapat hasil lebih besar.

Entrepreneur adalah seorang pemimpin. Karena itu, dia harus memiliki kompetensi kepemimpinan, kepeloporan, dan keteladanan. Hal ini diwujudkan dengan menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda. Dia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Sejalan dengan kompetensi ini adalah berorientasi ke masa depan. Wirausahaawan harus memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan.

Kompetensi lainnya adalah kreativitas dan inovasi. Wirausahawan tulen tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini. Dia juga selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya. Dengan tampil beda, seorang wisarausahawan berusaha untuk selalu memanfaatkan perbedaan.

Di bagian lain, Suryana (2003) mensyaratkan keterampilan (skill) yang harus dimiliki seorang wirausahawan. Keterampilan tersebut meliputi:

1. Managerial skill

2. Conceptual skill

3. Human skill (keterampilan memahami, mengerti, berkomunikasi dan berelasi)

4. Decision making skill (keterampilan merumuskan masalah dan mengambil keputusan)

Time managerial skill ( keterampilan mengatur dan menggunakan waktu).

Post

Wirausaha Jasa Fotokopi (1)

In Jurnal on April 5, 2011 by Litera Media

Kita Bicara Pengangguran

BERBICARA pengangguran seperti tak pernah berakhir. Warung kopi, mahasiswa tingkat akhir, sarjana, bahkan mereka yang sudah bekerja tak seperti tak lengkap tanpa berbincang pekerjaan. Pekerjaan menjadi topik hangat. Pembicaraan paling serius tentu saja milik para penganggur. Dan, jumlah mereka sangat banyak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, saat ini terdapat 9,43 juta penduduk Indonesia masuk kategori menganggur.

Yang menarik, para penganggur tidak melulu mereka yang tidak mengenyam pendidikan. Artinya, pengangguran tidak bisa dikorelasikan dengan rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja. Penganggur dari kalangan lulusan perguruan tinggi, baik diploma maupun sarjana, jumlahnya cukup signifikan. Kondisi tersebut diperparah dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai imbas dari krisis global.

Tabel 1

Perkembangan Jumlah Penganggur Terbuka Nasional

Menurut Pendidikan Tahun 2005-2009 (dalam ribuan)

No PENDIDIKAN 2005 2006 2007 2008 2009
1 Tdk pernah sekolah 264,5 170,7 94,3 103,2 60,3
2 Tdk/blm tamat SD 673,5 611,2 438,5 443,8 415,9
3 Sekolah Dasar 2.729,9 2,589,7 2.179,8 2.099,9 2.143,7
4 SMTP 3.151,2 2.730,0 2.264,2 1.973,9 2,054,7
5 SMTA Umum 3.069,3 2,851,5 2.532,2 2.403,4 2.133,6
6 SMTA Kejuruan 1.306,8 1.305,2 1.538,4 1.409,1 1,337,6
7 Akademi/diplI-3 308,5 278,1 397,2 362,7 486,4
8 Universitas 395,538 395,6 566,6 598,3 626,6
9 Jumlah 11.899,3 10.932,0 10.011,1 9.394,5 9.258,9

Sumber: Badan Pusat Statistik 2009

Mengacu kepada hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada 2008 lalu, angka pengangguran terbuka secara nasional secara konsisten tinggi.  Angka pengangguran angkatan kerja tidak tamat SD adalah sekitar 3%. Kemudian, angka pengangguran lulusan pendidikan tinggi hampir 10%. Ironisnya, pengangguran tertinggi terletak pada lulusan SMK (13,1%). Padahal, lembaga pendidikan kejuruan diharapkan mampu mempercepat masuknya lulusan ke dunia kerja. Bahkan, ada kecenderungan angka pengangguran tertinggi adalah sarjana, terutama pada bidang-bidang tertentu, seperti ilmu sosial dan perilaku.

Mari kita tengok analisis rate of return to education. Hasilnya menunjukkan bahwa makin tinggi jenjang pendidikan, makin rendah tingkat hasil baliknya. Pendidikan dasar adalah investasi pemerintah (public investment) yang paling menguntungkan (25-30%). Sebaliknya, pendidikan tinggi merupakan investasi yang paling rendah tingkat baliknya. Ini dikaitkan dengan  investasi pemerintah berupa subsidi sekitar 10-15%.

Namun begitu, pendidikan tinggi merupakan investasi menguntungkan perorangan. Angka 15-20% yang dihasilkan merupakan konsekuensi besarnya biaya yang bersumber dari pemerintah menjadi yang kelak semakin mempermurah biaya yang harus dikeluarkan perorangan. Di samping itu, sekolah umum (SMA) merupakan investasi lebih menguntungkan ketimbang sekolah kejuruan (SMK). Inilah yang dijadikan bahan untuk menentukan prioritas kebijakan di banyak negara.

Tabel 2

Struktur Angkatan Kerja Indonesia Menurut

Pendidikan yang Ditamatkan (%)

No Tingkat Pendidikan 1980 1994 2009
1

2

3

4

5

6

7

8

Tidak tamat sekolah

Tdk tamat SD

Tamat SD

Tamat SMP

Tamat SMU

Tamat SMK

Progrm Dipl

Sarjana

29,48

37,51

21,26

4,02

2,47

3,28

0,43

0,38

13,13

25,75

33,87

10,79

7,08

6,35

1,51

1,54

5.1

12.2

33.8

19.3

15.2

7.5

2.8

4.3

  Total % 100,00 100,00 100

Sumber: Sakernas (beberapa tahun)

Di bagian lain, sejalan dengan pergesaran struktur menuju ekonomi industri, struktur angkatan kerja Indonesia mulai bergeser secara perlahan dari dominasi angkatan kerja tamat sekolah dasar (SD) atau lebih rendah, ke struktur angkatan kerja terdidik.  Persentase angkatan kerja berpendidikan SD ke bawah sebesar 51,1% persen. Walaupun sudah mengalami penurunan 21 persen sejak tahun 1994 (72,8%), proporsi angkatan kerja berpendidikan rendah ini sebenarnya masih terlalu tinggi untuk suatu masyarakat dengan struktur ekonomi industri.  Angka ini belum jauh beranjak dari perkiraan penelaahan sektor pendidikan (IEES & Balitbang Dikbud, 1994) yang menunjukkan bahwa separuh dari pekerjaan sektor formal dan dua pertiga (66%) dari pekerja kegiatan ekonomi nonformal terdiri atas angkatan kerja berpendidikan paling tinggi sekolah dasar.

Tabel 3

Sumbangan Sektoral Terhadap PDB dan Angkatan Kerja (AK)

di Indonesia, Tahun 1980-2008

No Sektor Ekonomi Kontribusi thd AK Nasional (%)
1980 1994 2008
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Pertanian

Pertambangan

Ind. Pengolahan

Listrik, Gas, Air

Bangunan

Perdagangan

Pengangkutan

Lemb. Keuangan

Jasa-jasa

56,30

0,76

9,14

0,13

3,24

13,04

2,87

0,59

13,95

49,50

1,07

11,49

0,40

3,58

15,78

3,45

0,66

14,07

41.18           1.09           12.07            0.20            4.41           20.90            5.69             1.42           13.03
  Jumlah 100,00 100,00 100,00

Sumber: Sakernas (beberapa tahun), Badan Pusat Statistik

Namun demikian, tanda-tanda perbaikan telah mulai terlihat. Proporsi angkatan kerja yang berpendidikan lebih tinggi meningkat secara konsisten. Angkatan kerja berpendidikan menengah dan tinggi yang pada tahun 1980 berturut-turut sebesar 10,9 persen, dan 0,81 persen. Pada tahun 1994 angka-angka tersebut meningkat cukup berarti menjadi berturut-turut 13,4 persen dan 3,1 persen, dan pada tahun 2009 angka-angka tersebut adalah 22,7 persen dan 7,1 persen.

Jumlah angkatan kerja berpendidikan tinggi yang semakin meningkat ini juga merupakan gejala positif. Yakni, meningkatnya pendayagunaan tenaga profesional dan teknisi dalam berbagai kegiatan investasi lapangan kerja dan meningkatkan skala ekonomi untuk mendorong perluasan kesempatan kerja baru yang lebih beranekaragam. Dari sisi investasi, meningkatnya investasi sektor pemerintah dan swasta terhadap GDP dari 21,9 persen pada tahun 1978/79, 26,7 persen pada tahun 1988/89, 31 persen pada tahun 1996, dan menjadi sekitar 37% pada tahun 2009, akan mengakibatkan semakin besarnya kebutuhan akan tenaga ahli dan profesional yang berarti makin meningkatnya tuntutan terhadap tenaga-tenaga kerja profesional dan yang berpendidikan lebih tinggi.

Problem pengangguran sendiri ternyata makin kompleks. Pengangguran relatif dekat dengan tindak kriminal, kemiskinan, kemerosotan tingkat kesehatan, dan lain-lain. Dengan begitu, penanggulangan pengangguran harus memperhatikan banyak faktor. Padahal, upaya pemerintah untuk menanggulangi angka pengangguran dapat dikatakan cukup banyak. Berbagai upaya telah dilakukan, bahkan hampir setiap kementerian memiliki program khusus untuk menanggulangi masalah pengangguran. Salah satunya melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional.

Post

Company Profile

In Uncategorized on July 29, 2010 by Litera Media

Litera Media – Integrated Media Services merupakan lembaga penyedia jasa manajemen dan produksi media informasi, baik cetak maupun online. Secara teknis, kami siap membantu Anda mengelola media berupa majalah, newsletter, tabloid, portal berita online, website lembaga atau perusahaan, dan lain-lain. Membantu dalam makna menghimpun materi, mengolah, kemudian menyajikan dalam bentuk komunikatif.

Jasa Kami
- Observasi
- Reportase
- Riset terpadu
- Penyusunan laporan
- Penulisan
- Penerjemahan
- Penyuntingan
- Pengembangan naskah
- Pengembangan visual
- Produksi

Kontak
Jalan Setiabudhi No. 234 Bandung (depan kampus UPI)
[t] 022-7394666/081320646821
[e] medialitera@gmail.com
[ym] nzif_bageur
[gtalk] tandaseru
[w] literamedia.wordpress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.